Susahnya Mewujudkan Modifikasi Motor yang Legal di Indonesia

Modifikasi motor memang seperti industri yang tidak akan pernah ada habisnya untuk digeluti. Namun, industri ini punya berbagai tantangan besar dalam praktiknya, terutama di Indonesia.

Meski banyak penggiat modifikasi motor yang turut ikut andil menyemarakkan pasar roda dua, namun nyatanya regulasi pemerintah sering dianggap menjadi problem utama. Pasalnya, modifikasi motor tidak bisa dilakukan semaunya sendiri. Ada banyak sekali aturan yang mengatur tentang dunia kustom di Indonesia.

Ihwal modifikasi motor tersebut tercantum dalam pasal 49 dan 50 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pada pasal 50 tertulis “Uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) huruf a wajib dilakukan bagi setiap Kendaraan Bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan, yang diimpor, dibuat dan/ atau dirakit di dalam negeri, serta modifikasi Kendaraan Bermotor yang menyebabkan perubahan tipe.”

 

Modifikasi Motor Harus Ikut Uji Tipe dan Laik Jalan

Roland Sands Custom Harley-Davidson by latimes.com

Dalam aturan yang tertera pada Pasal 50 UU LLAJ, modifikasi kendaraan bermotor wajib mengikuti uji tipe, salah satu poin yang dipertimbangkan ialah perihal “Pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan.”

Jika bentuknya diubah hampir seutuhnya, maka motor tersebut harus menjalani uji tipe dari kementerian terkait, contohnya Kementerian perhubungan.

Modifikasi motor Royal Enfield Bullet 350 bernama chopperland EG x KAC O1 RI 1 kepunyaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) misalnya. Menurut keterangan Andrianka, salah satu pemilik Elders Garage yang juga ikut dalam proses mengkustom motor Jokowi kepada Tirto.id menjelaskan, bahwa motor tersebut sudah dirombak nyaris total dan hanya menyisakan 30 persen saja.

Itu berarti, motor kepunyaan Presiden Jokowi itu sudah semestinya mengikuti uji tipe dari kementerian terkait, agar legal dan bisa dikendarai di Jalan.

Namun, tidak serta merta hal itu bisa dijadikan patokan dan motor akan dinyatakan legal. Rupanya terdapat aturan-aturan lain yang harus ditaati. Dan tidak tanggung-tanggung, apabila dilanggar maka pidana bisa mengancam kapan saja.

 

Part Modifikasi Motor Harus Memenuhi Syarat

Bavarian Fist Fighter by wunderlichamerica.com

Motor modifikasi tidak hanya tentang mengubah keseluruhan bodi, tapi juga memperhitungkan setiap part yang tersemat pada motor telah memenuhi peraturan.

Selain UU LLAJ, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan yang mengatur banyak persyaratan mulai dari sumbu roda hingga bumper yang harus ditaati.

Ada juga pasal 64 PP 55/2012 yang mengatakan,”Setiap kendaraan yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan” termasuk mempertimbangkan soal kebisingan suara. Faktor kebisingan suara ini kerap menjadi alasan petugas menindak pengendara sepeda motor karena dianggap tidak memenuhi ambang batas yang ditentukan.

Aturan tersebut dijabarkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 07 tahun 2009 tentang Ambang Batas Kebisingan suara kendaraan.

 

Modifikasi Motor Harus Mendapatkan Izin dari Pemilik Merek

Girl with Customized Motorcycle by Bike Exif

Ternyata, meski memiliki motor yang dibeli sendiri dan dari uang sendiri, tidak serta merta membuat motor bisa dengan mudah dimodif dan boleh atau legal dikendarai di jalan.

Berdasarkan Pasal 132 ayat (5) dan ayat (6) PP55/2012 menjelaskan bahwa setiap modifikasi motor harus mendapatkan izin kepada Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).

Jika saja ada motor Honda Yamaha Scorpio yang dikustom menjadi scrambler, itu artinya modifikator yang bersangkutan harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari PT Yamaha Motor Indonesia Manufacturing (YIMM).

Hal ini tentu bukan perkara yang gapang untuk diterapkan. Lulut Wahyudi, salah satu penggiat kustom Indonesia sekaligus direktur Kustomfest menuturkan, bahwa hal itu nyaris mustahil.

“Mana mau ATPM mengizinkan. Saya ini juri Honda Modif Contest (HMC) tiga tahun, mereka tidak mau kasih izin, mereka punya standar sendiri,” terangnya kepada Tirto.id.

Jika dilanggar, sesuai pasal 277 UU Nomor 22/2009 tentang LLAJ, maka pelaku atau modifikator bisa saja diancam hukuman penjara maksimal 1 tahun dan denda paling banyak Rp24 juta.

 

Presiden Jokowi Berpikir Motor Kustom Bisa Diekspor

Motor Chopperland Presiden Joko Widodo by Tempo

Bukan hanya menyenangi dunia kustom, ketika Presiden Jokowi membeli chopperland dari Elders Garage dan didatangi anak-anak motor di lingkungan istana, presiden pun mengungkapkan harapannya untuk kustom Indonesia.

Berdasarkan berita lansiran Kumparan, Sabtu (20/1/2018), melalui Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Triadi Machmudin, Presiden Jokowi berpikir bagaimana caranya karya Indonesia itu bisa diekspor dan dinikmati hingga ke luar negeri.

“Presiden juga sempat berpikir bagaimana motor-motor karya anak bangsa ini diekspor ke luar negeri. Karena motor buatan anak bangsa tak kalah dengan yang luar,” terangnya.

 

Nasib Modifikasi Motor di Indonesia

Lulut Wahyudi Beserta Tim Kustomfest by 22motomoto.com

Lulut Wahyudi ketika diwawancarai oleh Tirto.id, ‘curhat’ soal regulasi yang hingga kini memang menjadi sandungan untuk membuat kustom motor berkembang di Indonesia.

Ia bahkan memiliki kesimpulan bahwa pemerintah dan legislatif tidak pernah berpihak padanya dan dunia kustom secara umum.

Menurutnya, memang penggiat kustom di Indonesia masih memiliki skala kecil. Mereka melakukannya bukan seperti memproduksi barang-barang berjumlah besar sehingga membutuhkan pabrik sendiri.

Ia juga memberikan gambaran bagaimana komponen-komponen kecil kendaraan seperti baut yang semestinya bisa dibuat sendiri. Namun, Indonesia masih banyak impor dari negara lain seperti Thailand dan China.

Bagi Lulut, atas alasan yang sama, bisnis kustom mungkin dianggap tidak memiliki prospek yang baik. Dengan begitu, regulasi yang dibuat pun ikutan tidak jelas.

Ia mencontohkan soal knalpot motor kustom yang diatur Undang-undang 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Selama ini, banyak para pengkustom motor yang dibikin bingung dalam melakukan uji desibel.

Pertanyaan besar Lulut, ke mana mereka harus menguji produk hasil kreativitasnya agar bisa diakui?