Memahami Asal Muasal Aliran Kustom Paling Keren di Indonesia

Indonesia kaya akan berbagai macam aliran kustom. Kamu yang doyan kustom, pasti sering melihat bentuk-bentuk unik sepeda motor yang pernah menjadi ikon berbagai event pameran kustom di Indonesia. Itulah mengapa negara ini laksana “ladangnya” industri kustom yang begitu diperhitungkan oleh para penggiat kustom dari berbagai negara di dunia.

Hal itu tercermin dari gelaran modifikasi motor terbesar di Indonesia, Kustomfest, yang selalu ramai didatangi oleh para pelancong domestik maupun mancanegara. Umumnya, mereka sengaja berkunjung untuk melihat sendiri karya-karya eksotis pengrajin Indonesia.

 

Perbedaan Building dan Modifikasi Motor

Ilustrasi Mekanik di Bengkel by puremotoclub.com

Sebelum beranjak ke pembahasan yang lebih dalam soal dunia kustom Indonesia, kamu harus tahu dulu apa sih yang membedakan antara modifikasi (yang dilakukan oleh modfikator) dan building (yang dilakukan oleh builder). Meski keduanya berada di bawah payung kata “kustom (custom)”, istilah-istilah tersebut sebenarnya punya makna yang berbeda lho.

Kata modifikasi diserap dari bahasa Inggris “modification” yang berarti mengubah suatu hal yang sudah ada. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, modifikasi juga diterangkan sebagai pengubahan atau perubahan. Itu berarti modifikasi lebih identik dengan mengubah motor yang sudah ada menjadi style baru dengan menambahkan, mengurangi atau pun mengganti bentuk dasarnya.

Dengan demikian, modifikasi lebih cenderung mempertahankan konsep dasar motor. Proses pengerjaannya pun terbilang lebih mudah karena seorang modifikator tinggal memainkan bentuk motor seperti menyematkan aksesori, mengganti fairing, atau juga meninggikan shockbreaker. Bahkan mengganti ban standar dengan ban cacing pun sudah tergolong dalam modifikasi.

Sedangkan untuk building motor memiliki makna lebih kompleks. Kustom seperti ini mengandalkan builder untuk membangun karyanya dari nol hingga terbentuk motor baru. Builder akan membikin motor mulai dari bentuk sasis sampai rangka keseluruhan. Hal inilah yang membikin motor hasil building terlihat lebih unik dan tidak jarang disebut memiliki “nyawa” dan “style khas” builder-nya.

Building pun bukan berarti setiap part harus diproduksi sendiri. Berbagai aksesori aftermarket tidak pernah luput menjadi bahan pelengkap kustom demi mendapatkan desain apik yang diinginkan. Bedanya, building lebih mempertaruhkan kreativitas dan kerja keras! Ketimbang modifikasi, building jelas membutuhkan waktu yang lebih panjang dan tentu saja dompet yang lebih tebal!

Nah, kembali lagi ke bahasan tentang dunia kustom di Indonesia. Ada banyak aliran yang ternyata disukai oleh para builder dan juga penyuka modifikasi terutama mereka yang demen dengan kustom-kulture. Trend ini memadukan antara modernitas dan desain klasik atau pun retro, sehingga menghasilkan motor kustom yang unik dan bernilai seni tinggi.

Lantas apa saja sih bentuk motor kustom yang kini sedang populer di Indonesia? Simak nih ulasannya.

 

Mengenal Kustom Cafe Racer

BMW Cafe Racer by mercadolivre.com

Kustom Cafe Racer sebenarnya mengedepankan kecepatan dan handling ketimbang kenyamanan, sehingga lebih cocok untuk berkendara jarak dekat. Bentukan bodi Cafe Racer mengingatkan pada style motor balap di kejuaraan Grand Prix road racing tahun 1960 yang menggunakan setang pendek-membungkuk, tangki bahan bakar memanjang – sering dijepit dengan lutut dan bentuk jok yang menonjol.

Thoughtco.com menuliskan bahwa Cafe Racer pernah booming di kalangan penggemar motor Inggris pada awal tahun 1960an di Watword dan London, khususnya mereka yang sangat gandrung dengan Rocker atau “Ton-Up Boys”. Saat itu, motor hanya digunakan untuk riding dari cafe ke cafe dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Di masa post-war Britania Raya, tidak banyak orang bisa membeli mobil. Namun beranjak ke tahun 1950an, rata-rata orang Inggris sudah bisa membeli kendaraan roda empat. 10 Tahun berikutnya, Cafe Racer bukan lagi menjadi simbol seseorang tidak bisa membeli mobil, tapi justru berubah menjadi status sosial, kecepatan dan pemberontakan.

Kini Cafe Racer banyak diminati di Indonesia sebagai sebuah gaya yang unik dan keren. Beberapa manufaktur pun melengkapi varian mereka dengan Cafe Racer sehingga memudahkan konsumen untuk mendapatkan style yang dimau tanpa harus mengkustom sendiri. Beberapa merek yang memiliki varian Cafe Racer diantaranya:

  • BMW R nineT Racer
  • Ducati Scrambler Café Racer
  • Harley-Davidson XL1200CX Roadster,
  • Kawasaki Z900 RS Cafe
  • Métis Mk5
  • Moto Guzzi V7 Racer
  • Norton Commando 961 Café Racer
  • Royal Enfield Continental GT
  • SYM Motors Wolf Classic 150
  • Triumph Thruxton
  • Triumph Street Cup
  • Yamaha XSR900 Abarth

 

Memahami History Kustom Bobber

Paris Triumph Bonneville Bobber Hot Rod by bikeexif.com

Style kustom yang kini banyak diaplikasikan di Indonesia ialah Bobber. Nama tersebut diambil dari kata ‘bob-job’ yang sempat populer di tahun 1930an hingga 1990an. Cloudmotorcycle.com mendifinisikan bahwa aliran kustom ini sebenarnya menerapkan simplikasi pada motor dengan memotong fender depan dan memperpendek fender belakang. Selain itu, berbagai part yang hanya terkesan sebagai aksesori turut dipangkas untuk mengurangi bobot total.

Setelah Perang Dunia II, Bobber yang  berparalel dengan hot rods berubah menjadi kustom yang disempurnakan dengan ekstra chrome platting, metal flake paint job dan pin stripping. Pada awal tahun 1946, Kenneth Howard (Von Dutch) mulai memodifikasi motor Indian Scout bergaya bobber dengan cat yang lebih ekstreme, tangki lebih kecil dan handlebar lebih tinggi, serta ujung knalpot menjuntai ke atas pada ujungnya.

Aliran kustom ini lebih mengedepankan cita rasa seni sehingga unggul secara estetika dan menonjolkan gaya khas penunggangnya. Saking uniknya, tidak ada satu manufaktur pun yang mau menjualnya sampai tahun 1990an. Namun akhirnya, Honda dan Harley-Davidson ikut berkiprah menggunakan seni Bobber ke dalam produk mereka.

Merasakan Seni Modifikasi Bratstyle

BMW R nineT “Cyclone” by Brat style

Berbeda dari konsep kustom yang beredar saat ini, Brat Style sebenarnya diambil dari sebuah nama toko di Tokyo, Jepang yang didirikan oleh Go Takamine. Toko tersebut memiliki nama Brat Style.

Takamine membuat bahasa desain yang berbeda dibandingkan style kebanyakan dan akhirnya banyak ditiru oleh para builder dan modifikator dunia. Dari situlah muncul aliran kustom yang disebut dengan Brat Style. Sebagai seorang promotor kustom, tentu Takamine patut berbangga dengan prestasi yang kini dijadikan kiblat oleh para penggiat kustom sejagat.

Menurut Bikebound.com, kebanyakan Brat Style yang awalnya bergerak di Jepang punya basis Yamaha XS650, SR400 dan beberapa jenis motor berkubikasi kecil dengan frame yang sudah dimodifikasi. Ada juga yang menggunakan Harley-Davidson Sportster dengan umur yang sudah uzur.

Sosok populernya kustom Scrambler

Rajputana Custom Motorcycles by ride-dapper.org

Scrambler sebenarnya sangat familiar dengan dunia tracker atau motor penggaruk tanah (offroad). Scrambler juga memiliki setang lebih tinggi ditambah ban semi pacul (ban tracker) yang lebih mudah untuk menggilas area offroad.

Motorbikewriter.com menjelaskan bahwa Scrambler awal mulanya merupakan motor ‘dirt bike’ dengan kapasitas 650cc yang biasa digunakan untuk pertandingan balap offroad dengan teknik lompatan yang tidak terlalu tinggi. Oleh karenanya, rintangan di lintasannya pun berbeda-beda dan sedikit beragam ketimbang motor tracker.

Era Scrambler pernah pupus di pertengahan tahun 1970an dan diganti dengan modern motocross yang lebih punya power, bobot ringan dan suspensi panjang.

Cita rasa kustom tracker penggerus tanah

Indian Scout FTR1200 Custom Streetbike by gaadiwaadi.com

Selain motor yang siap dipakai pada trek aspal, banyak juga motor yang dikustom untuk jalanan tanah ekstreme. Tapi, ada juga lho yang fungsinya untuk melibas segala medan. Motor-motor seperti ini diberi nama dengan tracker.

Ada berbagai macam tracker, Flat, Board, Dirt, Grass dan Street. Masing-masing memiliki fungsi khasnya, tergantung trek yang ingin dilewati.

Pada tahun 1930an, flat tracker sempat populer di Amerika Serikat dan banyak dibangun sebagai prototype atau pun full untuk balapan. Saat itu, balapan masih sangat dibatasi bagi perusahaan besar.

Sedangkan untuk saat ini, tracker sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh style lawas yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Oleh karenanya, bikebrewers.com menuturkan kebanyakan tracker yang dibangun berdasarkan kultur (custom culture) punya bentuk tangki kecil, memanjang dan mirip cangkang kacang. Kursinya hanya satu dan bagian ekornya meruncing, atau ada juga yang spatbor belakangnya dipotong.

Garpu depan turut dilucuti hingga ke rangka dengan dimensi roda 19″ atau kadang-kadang 18″ untuk mendapatkan efek gagah di sisi depan.

Selain konsep kustom di atas, sebenarnya Indonesia masih kaya akan desain-desain lain yang tidak kalah keren dan variatif! Kalau Kamu lebih suka yang mana?