Bosozoku, Subkultur Jepang yang Tak Pernah Mati

Bagi para automotive enthusiast, terutama mereka yang suka dengan hal-hal berbau Jepang, istilah Bosozoku pasti sudah tak terdengar asing di telinga. Sesuai dengan namanya, aliran modifikasi ini memang diawali oleh sebuah geng motor di Jepang pada tahun 1950an. Namun karena satu dan banyak hal, popularitasnya baru terlihat di circa tahun 1980-1990an.

Tak seperti modifikasi atau aliran custom lain, Bosozoku memang terlihat unik dan tentu saja, sangat eye-catching. Bagaimana tidak, motor-motor aliran ini mengadaptasi fairing dengan dimensi yang tak lazim dan cenderung tidak proporsional. Tak hanya fairing, backrest juga tak luput dari sentuhan dan tentu saja, tingginya kurang proporsional jika dibandingkan dengan body motor.

Tak cukup sampai di situ, motor-motor Bosozoku umumnya dicat ulang dengan warna-warna cerah yang membuatnya mudah teridentifikasi ketika dipakai berkeliaran di jalanan. Jangan khawatir, para pengendaranya turut mengubah knalpot standar dengan ukuran yang lebih panjang dan suara meraung-raung.

© Speedhunters.com

Terinspirasi aliran Chopper dari Amerika Serikat dan sebuah subkultur para rocker dan penggiat motor di Inggris bernama Greaser, Bosozoku punya tempat tersendiri di hati para pecinta motor custom Jepang. Bicara soal pengendaranya, tentu saja Bosozoku memiliki style tersendiri. Jumpsuit, jaket militer, dan sepatu boots menjadi outfit andalan genre satu ini.

Meski demikian, subkultur ini masih dianggap ilegal di negara asalnya. Alasan utama tentu saja dari suara knalpot yang terlalu bising dan mengganggu pengguna jalan lain. Tak hanya itu, banyak dari personel geng motor ini yang lebih suka berkendara tanpa mengenakan helm. Dan seperti layaknya geng motor lain, mereka juga gemar berkonvoi, dengan kecepatan hanya 10-15 km/h, dan suara knalpot yang memekakkan telinga sambil mengibarkan bendera Jepang.

© Kansai Rider/YouTube

Nama Bosozoku semakin populer, hingga akhirnya polisi Jepang pada saat itu kerap memergoki para Bosozoku yang terlibat perkelahian dengan menggunakan senjata seperti pedang dan pipa besi, kebut liar, hingga dengan sengaja menerobos lampu merah. Aparat penegak hukum memiliki istilah tersendiri untuk anggota Bosozoku–yang mayoritas remaja berumur 16-19 tahun–yaitu Maru So.

© Pinterest.com

Saking terkenalnya, subkultur Bosozoku makin banyak menjamah para penggiat mobil di Jepang. Pada era tahun 1980-1990an, mobil-mobil beraliran Bosozoku mulai banyak terlihat di jalanan. Mirip dengan geng motornya, mobil-mobil tersebut gemar melakukan konvoy. Selain itu, penampilannya juga mirip, sebut saja air duct ekstra besar di bagian depan, spoiler ekstra lebar atau wing yang terlalu tinggi untuk ukuran mobil sedan. Tak lupa, muffler knalpot diperpanjang mengikuti spoiler.

© thedrive.com

Identik dengan kehidupan gangster, mayoritas anggota geng motor Bosozoku berakhir menjadi anggota Yakuza dan terlibat dengan berbagai macam aktivitas kriminal. Uniknya, masa lalu kelam subkultur ini tak membuat namanya tenggelam ditelan waktu. Era tahun 1980 adalah masa kejayaan Bosozoku, dan gaung subkultur ini pun mulai terdengar hingga ke luar negeri.

Namun tentu saja, para penggiat otomotif di negara lain tidak lantas mengikuti jejak anggota Bosozoku yang terlibat kriminal. Yang diadaptasi dari subkultur ini adalah caranya mempersonalisasi kendaraan kesayangannya.

Baru-baru ini, seorang builder asal Malaysia bernama Irwann Cheng telah mengadaptasi aliran Bosozoku pada motor modern. Berbasis Bajaj V15 dengan mesin 149cc, ubahan motor ini memang tak dibuat seekstrem para pendahulunya.

Masih mengedepankan sisi estetik, motor yang digarap oleh bengkel bernama FNG Works ini justru menjelma menjadi motor custom yang unik, namun sedap dipandang. Menggunakan stang sepeda BMX, Bosozoku modern ini masih cukup reliable untuk dikendarai di jalanan.

© bikeexif.com

Ubahan signifikan nampak pada body motor yang menyatu dengan tangki bensin. Berbadan ramping, dan masih menggunakan warna merah marun, motor ini juga menggunakan backrest ala chopper, namun tentu saja masih dalam dimensi yang proporsional.

Di bagian belakang backrest  dipasang bracket yang bisa digunakan untuk membawa skateboard. Meski stangnya menggunakan milik BMX, namun Irwann masih menyematkan spion bar-end yang–sedikit–menghilangkan kesan outlaw pada motor ini.

Sedangkan pada bagian batok kepala, head lamp dihilangkan dan dipindahkan tepat di atas roda depan. Batok kepala tadi hanya menyisakan sebuah spidometer kecil semi digital yang membuatnya makin sedap dipandang.

© bikeexif.com

Ketika ditanya tentang konsep, Irwann Cheng mengatakan bahwa motor ini adalah gabungan dari Honda DAX, sepeda chopper, yang kemudian dipadukan dengan gaya urban Bosozoku. Meski minimalis, Irwann juga masih menyematkan bracket untuk lampu belakang serta sein yang ditata sedemikian rupa hingga terlihat manis.

© bikeexif.com

Nah kalau kalian sendiri, lebih suka yang mana? Versi asli Bosozoku dengan handgrip ekstra tinggi lengkap dengan fairing-nya yang menjulang ke atas, ataukah justru jatuh cinta dengan Bosozoku modern yang satu ini?