Ruckus, Motor Matic yang Diam-Diam Melegenda

Kamu pengguna motor matic? Atau kamu justru mempersonalisasinya agar terlihat berbeda dengan motor matic lainnya? Menurutmu, motor matic mana yang diam-diam melegenda?

Jika dibandingkan, Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna motor matic terbanyak di dunia, terutama untuk alat transportasi sehari-hari. Tak hanya laris di Asia atau wilayah Asia Tenggara, motor matic ternyata juga cukup digemari di benua Eropa dan Amerika.

Sayangnya, varian yang cukup digemari di Eropa dan Amerika tak banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Desain dan bodinya yang compact ternyata tetap menjadi favorit meski mereka biasa menggunakannya di jalanan ekstra lebar nan lengang. Motor apa sih?

Bagi para penggemar motor Honda, nama Zoomer tentu tak asing di telinga. Seiring waktu, motor ini lebih dikenal dengan nama Honda Ruckus. Uniknya, Ruckus justru dipilih oleh mereka yang gemar mempersonalisasi motor kesayangan.

© topspeed.com

Tak lekang oleh waktu, Honda Ruckus pertama dikenalkan pada publik di awal tahun 2003. Memiliki dimensi yang tak jauh beda dengan motor matic Honda yang kini banyak berkeliaran di jalan, Ruckus menggunakan mesin 4-tak, dengan kubikasi hanya 49cc. Kaki-kakinya terlihat kekar karena paduan velg 10 inci dengan profil ban 120/90 di depan dan 130/90 pada bagian belakang.

Perbedaan paling mencolok dari motor ini adalah bodi terondol bawaan pabrik. Menyasar generasi muda dengan mobilitas dan aktivitas tinggi, Honda mendesain Ruckus sedemikian rupa hingga penggunanya bisa membawa skateboard hanya dengan meletakkannya saja di bawah jok. Ya, space tersebut memang kosong karena tangki bahan bakar berada di depan, tepat di balik headlamp.

© topspeed.com

Tak tampak perbedaan mencolok dari produksi Ruckus sejak kelahirannya. Hingga pada tahun 2006-2010, Ruckus lahir dengan wajah baru. Meski terlihat lebih kekar dari generasi sebelumnya, Ruckus masih menggunakan mesin berkapasitas sama. Selain desain bodi, Ruckus versi ini tak lagi single-seater.

Sepintas, versi ini tak jauh beda dengan motor matic yang banyak kita temui di jalanan sekarang. Yang membedakannya dengan motor matic lain tentu saja bodi yang dibiarkan terondol. Hanya saja, pada versi ini, Ruckus memang terlihat lebih rapi dan hilang kesan rebel-nya.

© topspeed.com

Entah apa yang menyebabkan pihak Honda kembali berubah pikiran. Meski tetap diproduksi secara massal, di tahun 2011 Ruckus dibekali dengan penampilan dan performa yang sama dengan varian terdahulu. Bahkan hingga tahun 2019, Ruckus masih diproduksi dengan tampilan ‘statement’.

Masih menggunakan 2 headlamp kembar berukuran besar, Ruckus sangat mudah dikenali saat melintas di jalanan. Perubahan yang disematkan padanya pun tak signifikan, hingga cukup sulit untuk membedakan tahun pembuatan jika kamu kurang jeli melihatnya.

© moneyinc.com

Lalu, mengapa motor matic satu ini justru digemari mereka yang berada di custom culture? Lahir dengan bodi terondol dan letak tangki yang tak lazim, Ruckus jadi ‘bahan’ yang sangat menyenangkan untuk dipersonalisasi.

Amerika Serikat adalah salah satu negara dengan kultur motor besar yang tak perlu diragukan lagi. Berbagai macam varian dari chopper, hingga bobber bisa kamu temukan dengan mudah di sini. Nah kultur inilah yang kemudian menjadi inspirasi para builder dan komunitas pengguna Ruckus di Amerika.

Sebut saja Ruckusters, julukan bagi komunitas pengguna Ruckus yang berada di Arcadia, negara bagian Kalifornia, Amerika Serikat. Masih menggunakan velg berdiameter 10 inci, mayoritas Ruckuster mengganti velg belakang dengan lebar 8,5 hingga 10, serta membalutnya dengan ban mobil.

Tak hanya itu, mereka juga mengubah kaki-kaki hingga menjadi lowride, serta memangkas space kosong di bawah jok sehingga posisi duduk pun menjadi sangat rendah. Tak lupa, para Ruckuster juga mengganti rem bawaan pabrik yang masih menggunakan tromol dengan rem cakram. Sebenarnya, rem cakram ini sudah diadaptasi Ruckus keluaran 2006-2010. Entah apa alasan Honda dengan mengembalikannya ke rem tromol pada versi berikutnya.

© bikeexif.com

Seperti yang dilakukan oleh builder yang bernaung di bawah bendera BTX Industries ini misalnya. Bernama The LV Projects, proyek ini mengambil inspirasi dari sebuah merk dagang terkenal, Louis Vuitton. Proyek ini juga merupakan sebuah kerjasama antara Ruckusters dengan BTX Industries.

Hasilnya? Tentu saja sebuah motor yang dibalur dengan warna elegan khas LV namun tak meninggalkan kesan rebel yang dibawanya. Meski sepintas motor ini bakal langsung dikenali, BTX Industries tak main-main dalam mengerjakan proyek tersebut.

© bikeexif.com

Meski elegan, kesan rebel motor matic ini bakal langsung terlihat setelah Anda melongok ke bagian mesin. Tak tanggung-tanggung, mereka menaikkan displacement menjadi 150cc–dengan kode mesin GY6, yang memang diperuntukkan bagi motor matic besar–3 kali lipat dari kapasitas mesin aslinya.

Untuk mengimbangi performa yang melonjak drastis, sebuah velg 10 inci ekstra lebar disematkan di bagian belakang. Shockbreaker belakang pun direbahkan, agar ground clearance LV Project jadi lebih mendekat ke tanah.

Tak hanya mesin, sektor pengabut udara tak luput dari sentuhan mereka. Mikuni TM28 dipilih sebagai peranti pengabut udara. Saluran pembuangan juga digantikan oleh knalpot buatan Yoshimura.

© bikeexif.com

Headlamp ekstra besar bawaan pabrik dilepas. Digantikan oleh lampu kecil yang diletakkan tepat di bawah batok kepala depan yang juga merupakan tangki bahan bakar. Ubahan lain tampak pada hand-grip, handle rem, spion bar-end, serta setang kemudi. Tak cukup sampai di situ, cover penutup belt juga dilepas, agar kesan rebel-nya semakin terlihat.

Personalisasi tersebut, sebenarnya memang telah banyak diterapkan oleh Ruckusters yang makin hari makin bertambah saja peminatnya. Hingga kini, masih banyak Honda Ruckus lowride yang tampak berkeliaran di jalanan Kalifornia.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: kapan motor rebel ini bakal mulai banyak terlihat di jalanan Indonesia yang notabene lebih cocok dengan dimensi Ruckus? Well, kita tunggu saja…